CBN — Kopi selama ini menjadi andalan banyak orang untuk mengusir kantuk dan menjaga konsentrasi. Namun, popularitas matcha yang semakin meningkat membuat minuman berwarna hijau ini mulai dilirik sebagai alternatif bagi mereka yang tetap ingin mendapatkan asupan kafein tanpa selalu memilih kopi.
Matcha bahkan kerap disebut dapat memberikan energi yang lebih tahan lama. Tetapi, apakah kandungan kafeinnya memang lebih tinggi daripada kopi?
Jawabannya cukup menarik. Matcha memiliki lebih banyak kafein jika dihitung berdasarkan berat bahan, tetapi secangkir kopi umumnya tetap mengandung kafein lebih tinggi.
Matcha mengandung sekitar 19–44 miligram kafein per gram bubuk. Jika satu porsi menggunakan sekitar 2 gram bubuk matcha, maka kandungan kafeinnya berada di kisaran 38–88 miligram.
Jumlah tersebut tidak selalu sama karena dipengaruhi oleh kualitas dan kesegaran daun, jumlah bubuk yang digunakan, hingga suhu air ketika matcha dibuat.
Sementara itu, biji kopi mengandung sekitar 10–12 miligram kafein per gram. Secara hitungan per gram, angka tersebut memang lebih rendah dibandingkan matcha.
Namun, kopi biasanya menggunakan lebih banyak bahan dalam satu sajian. Secangkir kopi umumnya dibuat menggunakan sekitar 7–10 gram kopi bubuk dan dapat mengandung rata-rata sekitar 95 miligram kafein.
Dengan demikian, jika dibandingkan berdasarkan satu cangkir, kopi secara umum masih memberikan asupan kafein lebih tinggi daripada matcha.
Efek Kafein yang Berbeda
Meski begitu, membandingkan matcha dan kopi hanya berdasarkan jumlah kafein terasa kurang lengkap.
Keduanya dapat memberikan efek yang berbeda bagi tubuh. Kopi cenderung memberikan dorongan energi yang lebih cepat dan kuat. Inilah alasan mengapa kopi sering menjadi pilihan ketika rasa kantuk datang di tengah pekerjaan atau aktivitas.
Matcha memiliki karakter berbeda karena selain kafein, minuman ini juga mengandung L-theanine. Kombinasi kafein dan L-theanine kerap dikaitkan dengan rasa fokus dan kewaspadaan yang lebih tenang.
Hal tersebut membuat matcha menarik bagi orang yang tidak terlalu menyukai sensasi “terkejut” setelah minum kopi. Bagi sebagian orang, matcha terasa lebih nyaman untuk menemani aktivitas yang membutuhkan konsentrasi dalam waktu cukup panjang.
Namun, pengalaman tersebut tidak bisa disamaratakan. Respons terhadap kafein setiap orang berbeda, termasuk dalam hal seberapa cepat efeknya terasa dan berapa lama tubuh mempertahankan rasa waspada.
Bukan Berarti Matcha Selalu Lebih Sehat
Matcha juga semakin populer karena dianggap sebagai minuman yang lebih sehat dibandingkan kopi. Memang, matcha mengandung berbagai antioksidan, termasuk katekin seperti EGCG.
Kopi juga mengandung antioksidan dan telah banyak diteliti terkait berbagai aspek kesehatan. Karena itu, menurut saya, kurang tepat jika keduanya diposisikan sebagai minuman yang harus dipilih berdasarkan label “sehat” atau “tidak sehat”.
Yang lebih penting justru bagaimana minuman tersebut dikonsumsi
Matcha yang dicampur dengan banyak gula dan sirup tentu berbeda dengan matcha yang disajikan tanpa banyak tambahan pemanis. Hal serupa berlaku pada kopi. Kopi hitam tentu berbeda dengan minuman kopi yang menggunakan banyak gula, krimer, atau topping.
Matcha atau Kopi?
Jika yang dicari adalah asupan kafein lebih tinggi dalam satu cangkir, kopi secara umum masih unggul.
Namun, jika menginginkan alternatif dengan rasa yang berbeda dan sensasi kafein yang bagi sebagian orang terasa lebih lembut, matcha patut dicoba.
Dari sisi harga dan kemudahan mendapatkan minuman, kopi juga masih lebih unggul. Hampir semua kedai menyediakan kopi, sedangkan matcha belum tentu tersedia. Matcha berkualitas juga cenderung memiliki harga yang lebih tinggi.
Pada akhirnya, tidak ada jawaban mutlak mengenai mana yang lebih baik. Kopi dan matcha memiliki karakter masing-masing. Kopi cocok bagi mereka yang menyukai dorongan energi yang cepat, sedangkan matcha bisa menjadi pilihan bagi yang menginginkan pengalaman minum berkafein yang berbeda.
Jadi, jika pertanyaannya adalah “matcha atau kopi, mana yang bikin melek lebih lama?”, jawabannya bukan hanya soal angka kafein. Cara tubuh merespons kafein, komposisi minuman, serta jumlah yang dikonsumsi juga ikut menentukan.
Bagi sebagian orang, secangkir kopi mungkin menjadi penyelamat saat kantuk menyerang. Bagi yang lain, semangkuk matcha justru terasa lebih pas untuk menjaga fokus tanpa sensasi kafein yang terlalu kuat.








