Jejak Sejarah Suku Bugis dan Makam Ulama Besar Abad ke-19 di Pulau Suwangi, Warisan Pesisir yang Kini Menanti Perhatian Pemerintah

- Jurnalis

Senin, 16 Februari 2026 - 18:14 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CBN Tanah Bumbu — Di tengah tenangnya Selat Pulau Laut, sebuah pulau kecil bernama Pulau Suwangi menyimpan kisah panjang peradaban pesisir yang nyaris luput dari sorotan. Pulau berpenghuni yang secara administratif berada di wilayah Batulicin, Kabupaten Tanah Bumbu, Provinsi Kalimantan Selatan ini merupakan saksi bisu perjalanan sejarah masyarakat Bugis, dakwah Islam, serta dinamika kebijakan konservasi yang memengaruhi kehidupan warganya hingga kini.

Mayoritas penduduk Pulau Suwangi berasal dari suku Bugis yang telah bermukim secara turun-temurun sejak awal abad ke-19, sekitar tahun 1800-an. Dari generasi ke generasi, keturunan mereka kini telah mencapai generasi ketujuh. Pola hidup masyarakat pulau sangat bergantung pada alam—sebuah relasi yang membentuk identitas pesisir yang kuat. Nelayan menjadi tulang punggung utama, disertai aktivitas bertani, berkebun, bertambak ikan dan udang, hingga menjual air bersih yang bersumber dari mata air alami Pulau Suwangi.

Namun, denyut kehidupan itu kian melemah. Data lapangan menunjukkan jumlah penduduk terus menyusut; kini hanya sekitar 25 kepala keluarga yang bertahan. Minimnya fasilitas dasar, ketiadaan listrik PLN, belum tersedianya sekolah formal, akses jalan yang layak, serta terbatasnya transportasi laut—mendorong banyak warga memilih meninggalkan pulau demi masa depan yang lebih pasti.

Situasi kian kompleks ketika Pulau Suwangi sempat ditetapkan sebagai kawasan konservasi oleh Departemen Kehutanan, yang membatasi ruang gerak aktivitas dan pembangunan. Meski demikian, titik terang hadir pada 11 Oktober 2019, saat status kawasan resmi berubah menjadi Taman Wisata Alam (TWA). Perubahan ini membuka peluang pengembangan berbasis konservasi dan pariwisata berkelanjutan—sebuah harapan baru bagi warga untuk bangkit tanpa mengorbankan kelestarian.

Baca Juga :  Andi Irmayani Rudi Latif: Ibu Punya Peran Penting Bentuk Karakter Anak di Era Digital

Potensi alam pulau ini tidak kecil. Di sisi timur dan barat, terbentang kebun karet serta aneka pohon buah seperti mangga, durian, rambutan, ramania, rambai, dan binjai. Sejumlah pohon durian dan binjai bahkan diperkirakan telah berusia ratusan tahun, menjadi penanda hidup perjalanan sejarah Pulau Suwangi.

Tak hanya alam, Pulau Suwangi juga menyimpan nilai sejarah dan spiritual yang tinggi. Terdapat ratusan makam muslimin, termasuk sebuah makam keramat yang diyakini sebagai tempat peristirahatan terakhir seorang ulama besar, Sayid Sholeh (Habib Sholeh), yang diperkirakan wafat dan dimakamkan di pulau ini sekitar tahun 1800 Masehi.

Menurut penuturan warga setempat dan masyarakat Tanah Bumbu, Habib Sholeh dikenal sebagai pendakwah yang berperan penting dalam penyebaran ajaran Islam di wilayah pesisir Kalimantan Selatan. Hingga hari ini, makam tersebut masih diziarahi, meski akses menuju lokasi terbilang sulit dan memerlukan perjalanan laut serta jalan setapak yang terbatas.

Baca Juga :  Manajer H. Aziz Muslim Sukses Bangun Tim Kompetitif, Putra Kusan FC Tembus Final Piala Bupati Tanah Bumbu 2026

Ironisnya, kondisi fisik bangunan kubah makam kini memprihatinkan. Usia bangunan yang telah tua, ditambah terpaan angin laut, membuat struktur kubah nyaris roboh dan mengalami pelapukan serius. Jika tidak segera ditangani, dikhawatirkan situs bersejarah ini akan rusak permanen.

“Kami sangat berharap ada perhatian dari pemerintah daerah. Kubah makam ulama besar ini perlu segera direhabilitasi. Selain itu, kami juga mengharapkan pembangunan jembatan atau akses yang layak agar warga dan peziarah lebih mudah berkunjung,” ujar Sarwani, Ketua RT 9 Pulau Suwangi, kepada awak media.

Warga menilai, dengan penataan yang tepat dan partisipatif, Pulau Suwangi memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata religi dan wisata alam yang berkelanjutan. Upaya tersebut diyakini tidak hanya menjaga warisan sejarah dan budaya, tetapi juga menghidupkan kembali roda perekonomian masyarakat yang selama ini berada di wilayah terluar dan minim perhatian.

Pulau Suwangi kini berada di persimpangan sejarah: antara menjaga amanah leluhur dan menanti kehadiran negara untuk memastikan warganya tidak terus terpinggirkan di tanah sendiri. Waktu akan menentukan, apakah pulau kecil ini akan kembali bersinar sebagai pusat sejarah dan spiritual pesisir, atau perlahan tenggelam bersama kisah-kisah besarnya. (Fan)

Berita Terkait

Praduga Tak Bersalah di Era Viral: Masihkah Relevan?
Andi Irmayani Rudi Latif: Ibu Punya Peran Penting Bentuk Karakter Anak di Era Digital
Logo HUT ke-81 RI Punya Makna Mendalam, Ini Filosofi di Balik Desainnya
Pangeran Hidayatullah, Tokoh Perlawanan Banjar yang Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama
Produk Unggulan Tanbu Dipacu Tembus Pasar Global
Dedikasi Ribut Giyono, Menyemai Asa Pencak Silat di Banua
Ketua BK DPRD Tanah Bumbu Soroti Bullying, Tekankan Edukasi Bukan Sekedar Seremonial
Manajer H. Aziz Muslim Sukses Bangun Tim Kompetitif, Putra Kusan FC Tembus Final Piala Bupati Tanah Bumbu 2026

Berita Terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 09:00 WITA

Praduga Tak Bersalah di Era Viral: Masihkah Relevan?

Jumat, 4 September 2026 - 12:30 WITA

Andi Irmayani Rudi Latif: Ibu Punya Peran Penting Bentuk Karakter Anak di Era Digital

Senin, 17 Agustus 2026 - 10:00 WITA

Logo HUT ke-81 RI Punya Makna Mendalam, Ini Filosofi di Balik Desainnya

Minggu, 9 Agustus 2026 - 17:00 WITA

Pangeran Hidayatullah, Tokoh Perlawanan Banjar yang Dianugerahi Bintang Mahaputera Utama

Kamis, 28 Mei 2026 - 12:20 WITA

Produk Unggulan Tanbu Dipacu Tembus Pasar Global

Berita Terbaru

Opini

Praduga Tak Bersalah di Era Viral: Masihkah Relevan?

Sabtu, 5 Sep 2026 - 09:00 WITA