Dedikasi Ribut Giyono, Menyemai Asa Pencak Silat di Banua

- Jurnalis

Senin, 25 Mei 2026 - 23:18 WITA

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

CBN Banjarmasin — Bagi seorang pendekar, gelanggang bukanlah sekadar panggung untuk menaklukkan lawan, melainkan cermin untuk menaklukkan ego di dalam dada.

Di tengah rimbunnya sejarah Persaudaraan Setia Hati Terate, satu nama berdiri layaknya pohon beringin yang kokoh. Akarnya menghujam kuat pada tradisi, sementara dedaunan ilmunya menaungi ribuan jiwa. Ia adalah Ribut Giyono, sosok sesepuh sekaligus penjaga cahaya persaudaraan di Kalimantan Selatan.

Langkah hidup Ribut Giyono laksana alur sebuah jurus. Setiap geraknya diwarnai filosofi yang dalam. Sebagai pendekar sepuh yang disegani, ia tidak hanya mengajarkan keindahan teknik bela diri, tetapi juga seni menaklukkan diri sendiri. Baginya, keringat yang menetes di atas matras adalah hujan yang menyuburkan taman budi pekerti, mencetak manusia berbudi luhur yang tahu benar dan salah.

Menurutnya, PSHT tidak sekadar melahirkan pesilat tangguh, melainkan manusia yang menjunjung nilai kemanusiaan agar ilmu yang dimiliki dapat membawa manfaat bagi sesama.

“Tidak hanya organisasi, dari PSHT saya belajar tentang nilai kemanusiaan, dan inilah yang membawa saya berhasil meraih penghargaan Hassan Wirayuda tahun 2022 dari Kementerian Luar Negeri,” ujar Ribut Giyono saat penulis berkunjung ke Padepokan Badini, Desa Padang Panjang, Kabupaten Banjar, Desember 2024 lalu.

Implementasi Setia Hati: Sanggup Menerima Perbedaan

Bagi Ribut Giyono, ilmu bela diri hanyalah wadah. Isi terpenting dari wadah tersebut adalah jiwa Setia Hati itu sendiri, yakni kemampuan mengenal diri pribadi dan menghargai sesama manusia.

“Organisasi PSHT itu ibarat samudera luas yang menampung berbagai macam perbedaan,” begitu pesan yang masih diingat penulis saat beliau memberi arahan dalam Rapat Triwulan PSHT Kalimantan Selatan di Goa Lowo, Kotabaru, Mei 2023 lalu.

Ombak dinamika organisasi tak pernah menyurutkan langkahnya. Sebagai nahkoda moral, ia menjadi kompas penunjuk arah saat badai keraguan datang melanda, memastikan kapal besar persaudaraan tidak karam oleh ego golongan.

Berbagai wejangan yang keluar dari lisannya ibarat embun pagi, menyejukkan sekaligus menghidupkan. Di mata para kadang PSHT, beliau bukan sekadar pelatih, melainkan pendidik sejati. Ia menjadi muara kebijaksanaan dan tempat berlabuhnya keluh kesah para pendekar muda.

Berawal dari Kota Seribu Sungai

Bagi sebagian orang, pencak silat hanyalah tentang gerak fisik dan seni bela diri. Namun bagi Ribut Giyono, pencak silat adalah jalan hidup, wadah menempa karakter, sekaligus jembatan untuk menebar kedamaian.

Semangat itulah yang ia bawa ketika merintis dan memimpin PSHT di Banjarmasin pada era 1990-an. Kala itu, cabang yang dipimpinnya bahkan menaungi dua wilayah berbeda, yakni Banjarmasin dan Barito Kuala.

Sebelum tahun 1990, Cabang Banjarmasin-Barito Kuala yang sebenarnya telah berdiri sejak sebelum 1990, belum pernah sekalipun menyelenggarakan pengesahan warga secara mandiri di tingkat cabang. Momentum bersejarah itu akhirnya terwujud pada tahun 1992, ketika untuk pertama kalinya PSHT Cabang Banjarmasin-Barito Kuala melaksanakan pengesahan sendiri di Ranting PT Jatanti Jaya.

Baca Juga :  Ketua BK DPRD Tanah Bumbu Soroti Bullying, Tekankan Edukasi Bukan Sekedar Seremonial

Sejak tahun 1992 itulah, pengesahan warga secara mandiri terus dilaksanakan secara rutin di Cabang Banjarmasin-Barito Kuala hingga sekarang. Hal tersebut menjadi tonggak penting dalam perjalanan PSHT di Kalimantan Selatan, sekaligus menandai semakin kokohnya eksistensi organisasi di Banua.

Prestasi yang Mengharumkan Nama Organisasi

Tidak hanya berkembang dalam sisi organisasi dan spiritualitas, PSHT Banjarmasin-Barito Kuala juga menunjukkan prestasi membanggakan di dunia olahraga pencak silat.

Pada tahun 1992, PSHT Banjarmasin berhasil meraih Juara Umum II dalam Kejuaraan Pencak Silat se-Kalimantan Selatan, sekaligus menyabet predikat Pesilat Terbaik Putra.

Prestasi tersebut meningkat pada tahun 1993, ketika PSHT Banjarmasin sukses meraih Juara Umum I Kejuaraan Pencak Silat Kalimantan Selatan, sekaligus memperoleh predikat Pesilat Terbaik Putri.

Tidak hanya itu, dalam berbagai kejuaraan pencak silat remaja yang diikuti pada masa tersebut, PSHT Banjarmasin hampir selalu membawa pulang gelar juara umum dan predikat pesilat terbaik. Capaian itu menjadi bukti bahwa pembinaan yang diterapkan Ribut Giyono tidak hanya melahirkan pendekar berkarakter, tetapi juga atlet berprestasi.

Menanamkan Tradisi Sarasehan dan Pengembangan Mental Spiritual

Di sela kesibukannya sebagai guru di SMPN 2 Banjarmasin sekaligus Ketua Cabang PSHT Banjarmasin-Barito Kuala, Ribut Giyono tetap aktif melakukan kegiatan motivasi, pengembangan, dan peningkatan kualitas pelatih di beberapa cabang PSHT Kalimantan Selatan secara mandiri pada periode 1993 hingga 1995.

Selain itu, ada hal yang membedakan PSHT Banjarmasin pada masa itu dibandingkan cabang lainnya. Sejak tahun 1993 hingga 1997, secara rutin dilaksanakan sarasehan warga setiap malam Jumat Legi dan sarasehan siswa tingkat hijau setiap malam Jumat Kliwon.

Kegiatan tersebut bertujuan menggali potensi kerohanian bagi warga PSHT maupun calon warga yang masih berstatus siswa hijau. Tradisi sarasehan itu menjadi wadah pembinaan mental dan spiritual, agar para pendekar tidak hanya kuat secara fisik, tetapi juga matang dalam pengendalian diri dan pemahaman nilai kehidupan.

Dalam lingkup yang lebih luas, PSHT Banjarmasin juga tercatat sebagai anggota IPSI Kodya Banjarmasin yang mengusulkan adanya Sarasehan Antar Perguruan di lingkungan IPSI Banjarmasin sebagai ruang mempererat silaturahmi antarperguruan pencak silat.

Dari Pendidik Menjadi Sesepuh Silat

Sebagai akademisi dengan latar belakang Sarjana Pendidikan dan Magister Manajemen, Ribut Giyono membawa warna tersendiri dalam perkembangan PSHT, khususnya di Kalimantan Selatan.

Pemikirannya yang analitis namun tetap menjunjung akar tradisi membuat dirinya dihormati lintas generasi, terutama bagi warga PSHT yang pernah merasakan didikan langsung beliau pada era 1990-an.

Dipercaya mengemban amanah di Departemen Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) kepengurusan pusat, ia menekankan pentingnya kurikulum kepelatihan yang tidak hanya berfokus pada teknik jurus, tetapi juga nilai ke-SH-an dan moralitas.

Baca Juga :  Wakil Ketua I DPRD Tanah Bumbu Dalam Peringatan Harlah ke-27 PKB: Komitmen untuk Mewujudkan Indonesia Produktif

Bagi Ribut, kebesaran PSHT tidak diukur dari banyaknya anggota, melainkan dari sejauh mana warganya mampu memberi manfaat bagi lingkungan sekitar.

Menjaga Marwah Organisasi di Tengah Dinamika Zaman

Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan zaman yang begitu cepat, Ribut Giyono menjadi salah satu pilar penyeimbang dalam organisasi.

Ia kerap mengingatkan pentingnya mematuhi pakem dan wasiat organisasi, termasuk pepacuh, isi sumpah bersama, hingga aturan AD/ART. Dalam berbagai kesempatan, beliau selalu menekankan bahwa warga SH Terate harus memiliki karakter unggul, rendah hati, tangguh, dan tidak mudah diadu domba.

Menurutnya, ilmu yang diajarkan harus berlandaskan kasih sayang dan persaudaraan. Ia pun terus mengingatkan filosofi “ilmu padi”, yakni semakin berisi semakin merunduk, agar terus diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.

Membawa PSHT Menembus Mancanegara

Dedikasi Ribut Giyono tidak berhenti di Kalimantan Selatan. Kiprahnya turut membawa PSHT berkembang hingga mancanegara.

Pada tahun 2014, ia turut memprakarsai pembentukan cabang khusus PSHT di Sabah, Malaysia, yang kemudian diperkuat melalui Surat Keputusan Nomor 075/SK/PP-PSHT/IX/2018.

Kemudian pada tahun 2018, PSHT kembali melebarkan sayap internasional dengan dibukanya cabang khusus di Melbourne, Australia berdasarkan Surat Keputusan Nomor 079/SK/PP-PSHT/X/2018.

Langkah tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai persaudaraan dan budaya pencak silat yang diperjuangkan Ribut Giyono mampu diterima lintas negara dan budaya.

Warisan Sang Sesepuh

Kini usianya mungkin tak lagi muda, namun semangatnya mengawal panji PSHT tak pernah padam. Dedikasi Ribut Giyono menjadi lentera bagi ribuan warga PSHT di berbagai penjuru nusantara bahkan dunia.

Tidak hanya di Indonesia, beliau juga pernah mendemonstrasikan keindahan pencak silat hingga ke Australia. Hal itu membuktikan bahwa gelar sesepuh tidak datang dari lamanya bergabung di organisasi, melainkan dari keteladanan sikap, konsistensi tindakan, dan keluhuran budi yang ditunjukkan setiap hari.

Bagi Ribut Giyono, warisan terbaik bukanlah nama besar, melainkan lahirnya generasi penerus PSHT yang berkarakter, tangkas secara fisik, dan kuat secara spiritual.

Warisan itu masih terasa hingga kini. Salah satunya melalui forum Sarasehan Triwulan PSHT Kalimantan Selatan yang ia prakarsai sejak 1998 di Kabupaten Kotabaru. Forum tersebut menjadi wadah silaturahmi serta pembahasan perkembangan organisasi bagi seluruh pengurus cabang se-Kalimantan Selatan.

Selain itu, Ribut Giyono juga mempelopori Kejuaraan Sirkuit PSHT Kalimantan Selatan sebagai wadah pembinaan prestasi. Melalui ajang itu, ia ingin PSHT mampu memberikan kontribusi nyata di dunia olahraga sekaligus mengharumkan nama organisasi.

Pada akhirnya, dedikasi seorang Ribut Giyono bukan hanya tentang membesarkan organisasi, tetapi tentang menjaga api nilai luhur agar tetap menyala dari generasi ke generasi. (*)

Penulis : Sujianto, Ketua Bidang Publikasi dan Media PSHT Kalsel

Berita Terkait

Ketua BK DPRD Tanah Bumbu Soroti Bullying, Tekankan Edukasi Bukan Sekedar Seremonial
Dorong Adaptasi Digital, Ketua BK DPRD Tanbu Soroti Minimnya Pembayaran Non-Tunai di SPBU
Wakil Ketua I DPRD Tanbu Hadiri Haul ke-220 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Pejabat dan Ulama Serukan Keteladanan
Wakil Ketua DPRD Tanah Bumbu H. Hasanuddin Sampaikan Ucapan Idul Fitri 1447 H, Ajak Masyarakat Perkuat Kebersamaan dan Silaturahmi
Kepergian Yazidie Fauzi Tinggalkan Duka Mendalam: Wakil Ketua DPRD Tanah Bumbu H. Hasanuddin dan Berbagai Tokoh Sampaikan Belasungkawa
Jejak Sejarah Suku Bugis dan Makam Ulama Besar Abad ke-19 di Pulau Suwangi, Warisan Pesisir yang Kini Menanti Perhatian Pemerintah
Ketua Badan Kehormatan (BK) DPRD Tanah Bumbu Ingatkan Bahaya Judi Online dan Pinjol Ilegal, Generasi Muda Diminta Waspada
Konsisten Kampanyekan Bahaya Narkoba, Ketua BK DPRD Tanah Bumbu Serukan Perlindungan Generasi Muda

Berita Terkait

Senin, 25 Mei 2026 - 23:18 WITA

Dedikasi Ribut Giyono, Menyemai Asa Pencak Silat di Banua

Rabu, 6 Mei 2026 - 20:00 WITA

Ketua BK DPRD Tanah Bumbu Soroti Bullying, Tekankan Edukasi Bukan Sekedar Seremonial

Kamis, 23 April 2026 - 18:20 WITA

Dorong Adaptasi Digital, Ketua BK DPRD Tanbu Soroti Minimnya Pembayaran Non-Tunai di SPBU

Jumat, 27 Maret 2026 - 11:07 WITA

Wakil Ketua I DPRD Tanbu Hadiri Haul ke-220 Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, Pejabat dan Ulama Serukan Keteladanan

Minggu, 22 Maret 2026 - 10:00 WITA

Wakil Ketua DPRD Tanah Bumbu H. Hasanuddin Sampaikan Ucapan Idul Fitri 1447 H, Ajak Masyarakat Perkuat Kebersamaan dan Silaturahmi

Berita Terbaru

Opini

Dedikasi Ribut Giyono, Menyemai Asa Pencak Silat di Banua

Senin, 25 Mei 2026 - 23:18 WITA