CBN Tanah Bumbu – Warga Kelurahan Kampung Baru, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Tanah Bumbu, kembali mengeluhkan banjir yang kerap terjadi setiap kali hujan turun dengan intensitas tinggi. Kondisi ini terutama dirasakan warga di RT 09 dan RT 11 dan RT 13 yang rumahnya selalu terdampak genangan air.
Salah seorang warga RT 11, Ibu Ati, mengungkapkan bahwa air yang masuk ke dalam rumah warga kerap mencapai di atas mata kaki orang dewasa. Menurutnya, kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama dan sangat mengganggu aktivitas masyarakat.
“Kalau hujan deras, air cepat naik dan masuk ke rumah. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah agar masalah ini bisa segera diatasi,” ujarnya, Minggu (24/5/2026).
Warga menduga penyebab utama banjir terjadi akibat tertutupnya saluran air atau drainase yang berada di Jalan Karateng Raya RT 11, tepat di perbatasan Kelurahan Kampung Baru dengan Desa Pelajau Mulia. Saluran tersebut diketahui merupakan satu-satunya jalur pembuangan air menuju Sungai Batulicin.
Menurut keterangan warga setempat, penutupan drainase dilakukan secara sepihak oleh pemilik lahan berinisial HTRE. Akibatnya, aliran air tidak dapat mengalir menuju sungai sehingga menimbulkan genangan yang merendam rumah warga di sekitar kawasan tersebut.
Hairudin, warga setempat, menjelaskan bahwa saluran air tersebut sebelumnya telah dibangun atau disiring oleh Pemerintah Daerah Tanah Bumbu sepanjang kurang lebih 400 meter dengan lebar sekitar 2,5 meter. Ia menyebut lahan saluran itu berasal dari hibah keluarga Wa Karateng atau H. Soding.
Namun, masih terdapat sekitar 300 meter saluran yang melewati lahan milik HTRE menuju Sungai Batulicin dan kini telah tertutup.
“Dulu sebelum ditutup, bahkan perahu kecil bisa masuk sampai ke Jalan Raya Insgub. Sekarang air tidak punya jalur keluar sehingga meluap ke permukiman warga,” jelas Hairudin.
Warga berharap Pemerintah Kabupaten Tanah Bumbu segera turun tangan untuk melakukan mediasi dengan pihak terkait agar akses saluran air tersebut dapat dibuka kembali demi mencegah banjir yang terus berulang.
Selain itu, masyarakat juga menilai saluran tersebut merupakan batas alam yang seharusnya tidak ditutup karena memiliki fungsi penting sebagai jalur pembuangan air bagi lingkungan sekitar.
“Kami hanya ingin solusi agar warga tidak terus-menerus menjadi korban banjir setiap musim hujan,” tutup Hairudin. (team)










