Oleh: Jusma Wahidah, Peserta Latsar Pusjar SKPP-CPNS Institut Teknologi Kalimantan
Pendidikan tinggi idealnya menjadi kawah candradimuka bagi tumbuhnya kesadaran kritis dan kedewasaan intelektual. Ia tidak sekadar mentransmisikan pengetahuan, tetapi membentuk kemampuan mahasiswa untuk membaca realitas sosial secara reflektif serta berani mengambil peran dalam perubahan masyarakat. Namun, realitas pembelajaran di banyak perguruan tinggi hari ini justru memperlihatkan jurang yang lebar antara cita-cita tersebut dan praktik di ruang kelas.
Dalam pengalaman mengajar, proses pembelajaran kerap berlangsung secara satu arah. Dosen menyampaikan materi, mahasiswa mencatat, lalu kemampuan mereka diukur melalui seberapa baik isi kuliah dapat dihafalkan. Diskusi sering kali bersifat formal dan berhenti pada pengulangan konsep. Padahal, pembelajaran justru menjadi hidup ketika mahasiswa diberi ruang untuk mengaitkan teori dengan pengalaman serta konteks sosial yang mereka hadapi. Tanpa dialog, pengetahuan berhenti sebagai wacana abstrak yang terpisah dari kehidupan nyata.
Jebakan Pedagogi Bank
Paulo Freire, dalam Pendidikan Kaum Tertindas, menyebut praktik ini sebagai banking concept of education. Pengetahuan diperlakukan layaknya tabungan, di mana dosen menyetor dan mahasiswa menyimpan. Dalam relasi semacam ini, mahasiswa diposisikan sebagai penerima pasif atau objek pembelajaran, bukan subjek yang aktif berpikir. Pendidikan pun direduksi menjadi proses pemindahan informasi, bukan ruang pencarian makna.
Model pendidikan gaya bank memang tampak efisien secara administratif. Kelas menjadi tertib, evaluasi mudah dilakukan, dan capaian pembelajaran dapat diringkas dalam angka-angka IPK. Namun, dampak jangka panjangnya sering luput dari perhatian. Mahasiswa terbiasa menghafal konsep, tetapi kesulitan menghubungkannya dengan realitas. Teori ekonomi terasa jauh dari persoalan masyarakat kecil di sekitar kampus, sementara teori sosial tidak selalu menyentuh dinamika konflik di ruang digital yang mereka hadapi setiap hari. Pendidikan berisiko berubah menjadi rutinitas akademik yang berorientasi pada nilai, bukan pendewasaan cara berpikir.
Melampaui Otoritas Tunggal
Transformasi pendidikan tidak akan tercapai selama dosen masih memosisikan diri sebagai pihak yang serba tahu, sementara mahasiswa dipandang sebagai pihak yang tidak tahu apa-apa. Di tengah banjir informasi saat ini, peran dosen justru semakin penting bukan sebagai penyedia data, melainkan sebagai fasilitator dialog yang menumbuhkan rasa ingin tahu, kemampuan refleksi, dan keberanian berpikir kritis.
Freire mengingatkan bahwa pendidikan tidak pernah bersifat netral. Pendidikan selalu membawa konsekuensi ideologis, apakah membebaskan atau justru menundukkan. Ketika mahasiswa hanya dilatih untuk patuh dan mengulang apa yang disampaikan dosen, pendidikan berpotensi melahirkan individu yang menerima ketimpangan sebagai sesuatu yang wajar. Bentuk penindasan semacam ini sering tidak disadari karena berlangsung halus dan tersembunyi di balik kurikulum formal, silabus, serta mekanisme evaluasi yang kaku.
Reorientasi Ruang Kelas
Dalam kerangka pedagogi kritis, pendidikan seharusnya bersifat dialogis. Pengetahuan lahir dari perjumpaan antara pengalaman, refleksi, dan tindakan. Dosen dan mahasiswa perlu diposisikan sebagai subjek pembelajaran yang setara dalam proses pencarian kebenaran. Diskusi yang argumentatif, keberanian mempertanyakan asumsi, serta kemampuan memproblematisasi realitas sosial harus ditempatkan sebagai inti proses belajar di perguruan tinggi.
Kebijakan Merdeka Belajar Kampus Merdeka sejatinya membuka peluang menuju pembelajaran yang lebih kontekstual dengan memberi mahasiswa ruang untuk berinteraksi langsung dengan dunia nyata. Namun, tanpa kesadaran pedagogi kritis dari para pendidik, kebijakan ini berisiko direduksi menjadi formalitas administratif semata dan berhenti pada pemenuhan jam kegiatan tanpa refleksi yang bermakna.
Pendidikan bukan sekadar akumulasi pengetahuan, melainkan proses memanusiakan manusia. Perguruan tinggi perlu berani keluar dari zona nyaman pendidikan satu arah dan membuka ruang dialog yang lebih setara. Ruang kelas semestinya menjadi laboratorium pembebasan intelektual, bukan ruang penjinakan. Sebab, tugas sejati seorang pendidik bukan menciptakan pengikut yang patuh, melainkan melahirkan pemikir yang merdeka.









